PLNE Kerja Sama dengan ThorCon Lakukan Feasibility Study Implementasi Prototipe PLTT

admin_humas, 12 Aug 2020


Jakarta, 12 Agustus 2020 | PT PLN Enjiniring dan ThorCon International, Pte. Ltd. melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman terkait Feasibility Study Implementasi Prototipe Pembangkit Listrik Tenaga Thorium (PLTT) pertama di Indonesia secara virtual. Penandatanganan dilakukan oleh Direktur Utama PT PLN Enjiniring, Hernadi Buhron, bersama dengan Kepala Perwakilan Thorcon International, Pte. Ltd, Bob S. Effendi dengan disaksikan oleh perwakilan dari Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim dan Energi, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Republik Indonesia.

Adapun Kerjasama tersebut dilakukan guna menjawab tantangan dari Pemerintah untuk dapat dilakukannya kajian mendalam guna melakukan persiapan pembangunan PLTT. yang memiliki nilai keekonomisan yang dapat bersaing dengan batubara. Pembahasan terkait nuklir ini sudah bergulir selama 30 tahun lamanya.

Melalui standar internasional serta sumber daya yang kompeten dan berpengalaman di bidang ketenagalistrikan, PT PLN Enjiniring siap mendukung penuh persiapan pembangunan Prototipe PLTT dengan memaksimalkan komponen yang dimiliki untuk membuat feasibility study (studi kelayakan) termasuk studi tapak dan grid study. Adanya kerja sama yang dilakukan antara PT PLN Enjiniring dan ThorCon International, Pte. Ltd. ini dilandasi dengan adanya surat rekomendasi dari Pemerintah Pusat kepada ThorCon untuk melakukan persiapan pembangunan Prototipe PLTT.

Indonesia adalah negara kaya ragam energi, tetapi tetap lebih dari 65% energi primer mengandalkan fosil khususnya batubara. Sementara sumber energi fosil di Indonesia sudah mulai habis. Mengingat adanya komitmen Indonesia untuk menurunkan emisi, kedua hal tersebut menciptakan sebuah kebutuhan, yaitu mencari pengganti sumber energi fosil yang dapat berfungsi sebagai baseload dan dapat beroperasi 24 jam dengan tidak terpengaruh cuaca, serta tidak menghasilkan emisi CO2 dan dapat menggantikan khususnya batubara yang saat ini merupakan energi andalan.  

Thorium sendiri merupakan salah satu sumber energi primer yang layak dipertimbangkan, mengingat sumber daya Thorium sebagai mineral ikutan Timah sangat berlimpah. Banyak pakar yang menduga bahwa kesediaan Thorium cukup untuk 1.000 tahun ke depan, dan hingga saat ini belum dimanfaatkan sehingga berpotensi menjadi solusi bagi transisi energi menuju ekonomi Indonesia rendah karbon 2050.

Saat menyampaikan sambutannya, PLT Direktur Utama PT PLN Enjiniring menyatakan turut mendukung penuh kerjasama yang dilakukan antara PT PLN Enjiniring dengan ThorCon International, Pte. Ltd. “Kami dari PLN Enjiniring turut merasa bangga dapat terlibat dalam pelaksanaan pengembangan PLTT (Pembangkit Listrik Tenaga Thorium) yang diinisiasi oleh ThorCon International. Kami juga berharap penandatanganan MoU hari ini merupakan dasar untuk melanjutkan kerjasama yang konkrit dalam waktu dekat. Harapan kami, dengan adanya penandatanganan MoU antara PLN Enjiniring dan Thorcon International ini juga akan membawa dampak yang positif dan added value bagi kedua perusahaan serta dapat memberikan kemajuan berarti bagi Indonesia secara keseluruhan untuk mencapai kesejahteraan melalui swasembada energi, terutama green energy. Hal ini sejalan juga dengan program transformasi PLN sebagai induk perusahaan kami, yaitu Green, Lean, Innovative dan Customer Focus.” ungkap Hernadi Buhron, PLT. Direktur Utama PT PLN Enjiniring.

Disamping itu, Bob S. Effendi, Kepala Perwakilan ThorCon International, Pte. Ltd. juga menyatakan bahwa saat ini adalah waktu yang tepat untuk menggunakan PLTN di Indonesia. “Saya rasa ini waktu yang tepat. Kita sudah tidak perlu ragu dan takut lagi dengan PLTN. Pertama, PLTN merupakan teknologi yang sudah matang dan lebih dari 50 tahun. Sebanyak 450 unit PLTN telah beroperasi di 30 negara di dunia dan terus bertambah, bahkan faktanya berdasarkan kematian per terra watt hour, PLTN adalah yang terkecil artinya yang teraman. Kedua, mengingat Indonesia sudah mengoperasikan 3 reaktor nuklir sejak tahun 1965 dan memiliki 2 lembaga nuklir, 2 univeritas yang setiap tahunnya meluluskan ratusan sarjana nuklir dan puluhan Profesor Nuklir yang berpengalaman dan berkelas dunia. Ketiga, Indonesia telah memiliki Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) sejak 1998 sebagai regulator yang menjamin PLTN yang beroperasi di Indonesia akan selamat dan aman,” ujar Bob S. Effendi, Kepala Perwakilan ThorCon International, Pte. Ltd.

Melalui kerjasama antara kedua perusahaan tersebut, PT PLN Enjiniring berkomitmen akan selalu meningkatkan kapasitas rekayasa enjiniring pada tenaga nuklir sesuai dengan perkembangan teknologi yang aman dan andal guna mendukung pembangunan PLTT di masa yang akan datang.

    Komentar

    Sedang mengirim